Select Your Language

Minggu, 30 Maret 2014

Salam Sayang Kakekku ...

Alhamdulillah. Pinta enam tahun lalu t’lah ku tunaikan. Enam tahun sudah ku tinggal di Paciran, Lamongan. Sebagaimana pintamu padaku untuk menjadi santriwati yang berguna. Tepat di bulan ketiga tahun 2008, ketika kau mengajak kami sekeluarga ke suatu tempat. Ketika itu kondisimu masih baik. Jauh tak pernah terlintas di pikiranku, “aku akan mondok”. Namun, Allah berkata lain, kau berupaya memondokkanku, di tempat itu, ‘Pondok Modern Muhammadiyah’ namanya.

Tepat pada tanggal 2 Mei 2008. Dua bulan berlalu, ketika penyakit itu mulai menggerogoti kesehatanmu, sungguh ku sangat khawatir kehilanganmu. Pagi-pagi, ku berpamitan padamu.  Tak pernah terbayang, kebiasaan itu akan menjadi kebiasaan terakhir di antara kita. Ku pamit tuk menuntut ilmu, kala itu aku masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Ku berdiri di bibir pintu kamarmu. Aku tak tega melihatmu, aku tak berani mendekat padamu, ku hanya berkata “Mbah kung, Vitis pamit sekolah dulu”

Tak satu pelajaran yang bisa ku serap. Aku terpikir olehmu, aku menangis sepanjang jam pelajaran. Tak ada keceriaan sama sekali saat itu. Kakekku sayang, saat pulang sekolah tak kudapati engkau dikamarmu. Ku mencarimu dimana-mana, namun tak ku dapati engkau di sudut ruang mana pun. Bahkan tak ada seseorang di rumah. Aku sedih. Aku sungguh bingung kala itu.

Beberapa saat kemudian, bibi datang menemui ku, kemudian mengajakku ke rumah sakit. Aku tak mengerti, aku sangat bingung “ke rumah sakit, siapa yang sakit?” tanyaku dalam hati. Kakek, aku sangat takut saat itu. Ku takut terjadi apa-apa denganmu. Di perjalanan, bibi mencoba menenangkanku, namun upaya bibi sia-sia, aku masih sedih.

 Perlahan bibi membuka pintu ruang inapmu, engkau terkulai tak berdaya di atas ranjang putih itu. Ku sangat terkejut ku dapati engkau disana. Aku sangat sedih kek. Aku juga takut. Betapa tidak, kau terlihat sangat pucat, banyak jarum dan alat medis dimana-mana, menusuki kulitmu.

Semalaman ku lewati bersamamu, ku tertidur disamping ranjangmu. Hari-hari ku lewati bersamamu di rumah sakit itu. Tanpa ku sadari, pada malam itu, tak sengaja tanganmu terjatuh, membuatku terbangun. Kau berusaha merangkulku. Kau menangis, tak henti-henti kau terus menyebut namaNya. Tak terasa seisi ruang terbangun dan menyaksikan isak tangismu. Kau menahan sakit yang teramat luar biasa dan kau masih berusaha menahannya. Ku mencoba menenangkanmu, begitu juga dengan keluarga lain. Semuanya ikut menenangkanmu. Ku tak tahan melihat s’muanya itu. Ku putuskan untuk meninggalkanmu sejenak, karna sungguh ku tak tahan.

     Dalam nafas yang tersengal-sengal “Allah, bagaimana nasib keluarga saya, jika saya tinggal?” Ya, begitulah. Masih teringat betul keluhmu padaNya. Di sisa usiamu, kau masih memikirkan keluarga. Kau menangis pada Allah. Mengharap, kebaikan akan selalu mengiringi kami. Allahku, aku semakin tak sanggup mendengar isakkan itu, tagisanku semakin menjadi.

Detik-detik itu, ku kembali dipanggilnya, Ku dirangkulnya, ku diciumnya. “Nak, nurut sama keluarga. Kamu harus sayang sama keluarga” Nafas yang terpenggal-penggal kau hela demi menyampaikan amanah terakhir itu padaku. Kau terlihat sangat tak berdaya. Wajahmu sangat pucat. Ku hanya bisa merangkulmu, dan ku hanya bisa berdoa, “Allah berilah yang terbaik untuk beliau, jika memang Engkau hendak mengambilnya. Ambillah ia dalam keadaan khusnul khatimahMu” Perlahan rangkulan itu kau lepas, Allah mengirimkan malaikatNya untuk menjemputmu. Dan nafas terakhirmu mengantarkanmu kembali padaNya, “Laa Illahailallah Muhammadarrasulullah”

Pada rindu, pada masa dan pada semua kejadian pasti ada hikmahnya yang dapat ku petik. Pria tuaku kini t’lah tiada. “Mbah kung, Alhamdulillaha ku t’lah usai menamatkan studiku disini, tuk menunaikan amanahmu.”



Salam Sayang


 Vitis Indra Qomariyanti, cucu pertamamu


3 komentar:

  1. Nice True Story... :) Sebuah pernyataan kasih sayang walau hanya melalui tulisan...!

    followback http://cholis244.blogspot.com/

    BalasHapus
  2. :) Iya.. Tapi, sungguh sayang. Beliau nggak bisa lihat cucunya sekarang.
    Ok, kak insyaallah sy followback

    BalasHapus

“Sesungguhnya Allah Maha Indah dan mencintai keindahan, kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan merendahkan orang lain [HR.MUSLIM no.91]. Barakaallah Fiikum :)