Select Your Language

Sabtu, 05 April 2014

Izinkan Aku Mencintaimu dalam Diamku

Mataku mengarah ke sebuah foto, terlihat seorang wanita berkerbaya putih, memakai kerudung dan banyak bunga melati meronte di kepalanya. Nampak pula seorang pria berjas hitam rapi dan berdasi biru tua di sampingnya. Sepertinya ini foto pengantin. Ku bertanya-tanya siapakah itu? Sepertinya ku mengenal lelaki itu. Wajahnya tak asing bagiku. Dan siapa wanita itu? Sepertinya itu aku! lantas kapan aku menikah? Usiaku masih tujuhbelas tahun!


      Bunga tidur. Sangat nyata. Ah, lagi-lagi aku bermimpi. Ku melihat wekkerku, alhamdulillah masih setengah tiga. Ku segerakan bangun dan merapikan tempat tidur, kemudian pergi ke kamar mandi dan berwudlu.  Ku masih mengantuk, entah apa yang membuatku mengantuk seperti ini. Masih teringat jelas sketsa mimpiku tadi. Sungguh terlihat sangat nyata.
“Assalamualaikum” suara lembut itu memecah kesunyian musholah.

“Wa... walaikum salam mbak,”.

“Sudah lama disini ya?” tanyanya sambil menata sajadah

“Emm, iya mbak..”

“Aku sholat dulu ya, aku bangun kesiangan nih. Malu sama Allah mbak.” Sahutnya.

Aku tersenyum sembari mempersilahkan ia agar segera sholat. Perkataan sederhana namun penuh makna. Suara lebut dan merendahkan.“Malu sama Allah mbak.”

Berbagai makian mencekam hati. Merobek dinding hati, atas suatu teguran tentang kelalaiaanku selama ini. Ia malu sama Allah. Namun, bagaiman denganku? Dimana rasa maluku pada Allah? Ku akui, aku jarang bermunajah pada Illahi di sepertiga malam. Allah sampai kapan aku terus begini? Aku jarang sholat malam. Bagaimana nanti, ketika aku lulus dari sini. Oleh-oleh apa yang akan ku bawa? Lima tahun disini, seakan hanya lima bulan saja bagiku. Aku belum bisa apa-apa. Selama ini ku hanya bermain-main dengan waktu. Berbeda jauh dengan Jannah, ia berhasil memanfaatkan waktunya, walaupun ia baru dua tahun disini. Namun, dia sudah hafal beberapa juz. Sudah bisa berdakwah kemana-mana. Bahkan saat ramadhan tiba ia tak kunjung pulang ke rumah, ia habiskan separuh waktu liburan untuk menuntut dan berbagi ilmu di tempat lain. Bahkan tak jarang banyak ikhwan berkualitas silih berganti datang pada ayahnya untuk melamar. Subhanaallah, bagaimana dengan ku? Aku apa? Ah, kualitas dan kuantitasku sangat berbeda dengan Jannah milki.

      Ia satu kamar denganku di asrama ini. Sengaja kami tak pulang ke rumah walaupun waktu berlibur kami t’lah tiba. Tugas sekolah yang kami emban, yang membuat kami tidak segera pulang ke rumah. Sebut saja ia Jannahtul Haniin, atau biasa ku sapa mbak Jannah. Ya, walaupun kami satu angkatan dan usia kami tak berbeda jauh. Namun kami saling panggil memanggil dengan sebutan ukhti  atau mbak. Ya begitulah ia, ia mengajarkanku tentang banyak hal. Banyak ilmu yang aku peroleh darinya. Dan membuatku menjadi kagum padanya. Wibawa, cara pandang, tutur kata yang halus, sopan santun, ketawaddukan, wajah cantik, kulit yang bersih, cara berjalan, keanggunan, wajah teduh dan banyak lagi. Ah, Jannah... namamu sangat cocok dengan kepribadianmu seperti ini. Memandang kewadukkanmu membuat mata memandang menjadi tenang. Usiamu masih muda. Namun, usia tak menjadi tolak ukur kedewasaanmu. Wajarlah banyak ustadz muda disini yang kagum dan jatuh hati padamu. Andai aku bisa memiliki kepribadian sepertimu. Mungkin orangtuaku sangat bangga padaku.
     
      Ternyata Jannah selesai sholat, rupanya dia tau, aku mengamatinya dari tadi, “Mbak kenapa, kok ngelamun?”

Merapikan alat sholat dan “Hehehhe... ndak Mbak Jan, ndak ada apa-apa kok. Ayo ke masjid yuk”

Berjalan ke arahku dan tersenyum kemudian memberikan tangannya padaku. “Hayya...”

***

Kami memang belum saling kenal begitu dekat, namun akhir-akhir ini kami sering mengakrabkan diri. Berawal dari majalah dan buku-buku islam yang ia pinjamkan padaku. Aku sangat nyaman berteman dengannya. Begitu pula dengan Reva, sahabatku. Ia juga nyaman dengan Jannah. Setiap kali aku punya masalah, aku sering meminta pendapat dan solusi pada Jannah. Kedekatan kami berjalan terus seiring berjalannya waktu. Begitu  pula dengan Reva, sahabatku. Ia juga merasa nyaman berteman dengan Jannah. Kami sering bertukar pikiran untuk memecahkan masalah bersama.

      Seusai sholat subbuh, Jannah mengajakku duduk-duduk di bangku dekat saloben, pohon besar di komplek asrama. “Mbak Jan, pernah ngerasain jatuh cinta ndak?” Tanyaku.
“Jatuh cinta?” tersenyum malu melihat ke arah masjid.

“Iya, Jatuh cinta!” nyengir kuda.

“Jatuh cinta itu wajar mbak, Rasulullah seorang tokoh dien kita juga pernah jatuh cinta. Masak saya ndak,”

Ha? Seorang akhwat seperti dia pernah jatuh cinta... OMG, ternyata selama ini dugaanku salah. Aku kira dia terlalu sibuk mencari dan berbagi ilmu sana sini, sampai-sampai ndak mikir ke arah cinta. Seolah menutupi rasa terkejutku, aku membenarkan pernyataannya, “Love is beautiful ya mbak?”
       
“Iya sangat beautiful tapi... terkadang cinta tak selamanya indah. Ia pergi sebelum aku menjawab pinangannya, Mbak.”

“Pergi kemana Mbak Jan?”

“Meninggal,”
Tiba-tiba matanya beranak sungai membanjiri pipi. “Tepat satu tahun lalu, ia meninggal. Akibat kanker otak yang ia derita.”

Innalillahi Wainnailahi Raaji’un,” ucapku. Mengapa ku menanyakan ini? Aduh Gusti. “Mbak Jan, mohon maaf ya... aku ndak tau kalo dia sudah meninggal.” Ucap penyesalanku.

Menyekat air mata. “Ah, Mbak Tia... ndak papa. Ndak perlu minta maaf, Mbak kan ndak tau. Itu sudah menjadi jalan Allah. Allah sudah rindu pada laki-laki itu.”

“Sabar ya Mbak Jan, mungkin bukan dia untuk Mbak. Insyaallah sudah disediakan Allah pasangan yang lebih baik untuk Mbak.” Mencoba menenangkannya, dan menepuk pundaknya.

“Mbak Tia pingin dengar ceritaku dengannya?” Tawarnya padaku.

“Oh! Boleh boleh boleh boleh Mbak, tak dengerin dengan senang hati” gurauku menghiburnya.

Mbak Jannah memulai menceritakan kisahnya, “13 Januari 2012. Tepat seusai sholat maghrib Handphone saya berbunyi, terlihat nomor baru yang tertera disana. Aku mengangkatnya. Ku dengar salam dari suara asing itu, Assalamualaikum. Suara yang belum pernah ku kenal. Waalaikum salam. Jawabku bergetar. Entah suara siapa malam itu. Ia tiba-tiba menelpon dan memperkenalkan diri, ia bernama Habibbullah Azzam. Ia ustadz pengabdian dari pondok lamaku, Mbak Tia” Seketika kedua matanya berbinar-binar senaang, mengingat masa indah itu.

“Ehem, sepertinya seneng ya sama cerita ini?” Ujarku.

Mbak Jannah tersenyum. “Laki-laki itu menceritakan tentang mimpinya beberapa minggu lalu. Ia bermimpi mendengar lantunan ayat suci dari bibir seorang perempuan. Ia merasa lantunan itu sangat indah didengar. Ia mengaku cukup terhanyut dengan lantunan itu, Mbak. Dalam mimpi itu, dia mendekati perempuan itu. Namun perempuan itu sadar atas kedatangannya. Perempuan itu terkejut, kemudian perempuan itu lari. Ia berusaha mengejarnya, namun tak dapat ia temui. Ia hanya menemukan sobekan kertas dengan beberapa digit nomor. Mbak Jannah tersenyum geli menceritakannya padaku dan bertanya, “Lucu ya?”

“Hehehehe... iya mbak kayak di negri dongeng. Tapi keren ya? Aku benar-benar baru tau, kalo mbak punya cerita kayak gini”

Lesung pipi Mbak Jannah mulai muncul, wajahnya nampak merah. “Heheh iya lucu!”

“Hehehehe,” nyengir kuda lagi “and than mbak?”

“Dia menghubungi nomor itu, itu nomorku,” kembali ia tertawa.

Ku lihat sudah tak nampak lagi deraian air matanya tadi. Kini suasana terasa lebih akrab dan santai. Pikirku, ternyata Mbak Jannah bisa guyon juga. “Terus gimana mbak, setelah mbak angkat telfonnya?” Tanyaku.

“Hubungan kami semakin dekat. Dan akhirnya, beberapa bulan kedepan ia melamar. Ia melamarku lewat Ayah. Namun Ayah tak segera menjawabnya, beliau masih merundingkan dengan keluarga yang lain, beliau juga masih mempertimbangkan studiku yang belum selesai saat itu.”

“Lantas bagaimana Mbak kelanjutan ceritanya?

“Diam-diam saya juga menaruh hati padanya, setiap sholat ku selipkan doa untuknya. Saya mencintainya mbak Tia...”
Perasaanya tak bisa dibohongi. Kedua bola matanya menunjukkan kebahagiaan tersendiri. Memang benar, cinta bersemayam dimana saja. Tak peduli ia siapa dan kepada siapa ia memadu.

“Mbak bilang ke ayah atau ibu mbak?” tanyaku lagi.

Ia menggelengkan kepala, “Awalnya saya simpan rahasia ini sendiri. Saya belum sempat cerita ke Ayah maupun Ibu. Namun, seiring berjalannya waktu Ayah dan Ibu mengetahuinya sendiri.” Sahutnya.

Hmm, begitulah wanita. Butuh bahu untuk menompang. Tidak hanya Mbak Jannah saja yang butuh, begitu pula denganku. Mungkin, pada wanita lain juga. Aku juga tak bisa menanggung masalah sendiri. Aku membutuhkan bahu untuk menompang masalahku. Perasaan wanita sangat lembut dan rapuh. Karena ia tercipta dari tulang rusuk yang bengkok. Pikirku.

“Ya, mbak begitu pula aku. Awalnya diam, ndak cerita ke siapa-siapa tentang perasaanku terhadap si doi. Tapi tanpa diminta akhirnya aku sering cerita ke orang tua. Terutama tante. Beliau sangat dekat denganku.”

Tersenyum dan melanjutkan ceritanya, “Hmmm mbak itulah perempuan, makhluk halus ya?” guraunya “Tapi setelah kedekatan kami cukup jauh, kami merasa risih. Kami tak tahan dengan ini. Akhirnya kami berupaya menjaga jarak agar tidak saling berkomunikasih sering-sering. Namun, hati tak bisa dibodohi. Kami saling mencintai. Ini terbukti banyak perhatian yang saling kami terima. Seorang ustadz pernah menerangkan tentang hukum hubungan laki-laki dan perempuan seperti ini. Dan kesimpulannya, sama sekali tidak boleh. Hubungan ini sudah termasuk zina. Aku masih berusaha menjaga hubungan baik dengannya dan membatasi komunikasih. Namun, syetan lebih cerdik. Syetan berhasil membisiki. Dan akhirnya aku tak bisa menahan gejolak ini. Kami kembali berkomunikasih secara leluasa, tanpa komitmen pacaran.”

Ternyata bukan Mbak Jannah saja yang pernah mengalami hal sedemikian. Aku juga pernah merasakan seperti ini, lirihku dalam hati. “Astaghfirullah, ternyata syetan lebih cerdik ya. Ada hikmahnya ya mbak?” Tukasku.

“Iya,” Mbak Jannah tersenyum. “Hmmm, Allah sangat sayang pada hambaNya. Lima bulan kemudian, ketika aku sudah berada di asrama ini. Hubungan kami sempat terputus. Tiga orang ikhwan datang ke rumah. Mereka mengantarkan titipan dari Azzam. Dan membawa kabar duka. Azzam t’lah meninggal. Aku sangat shock mendengar kabar itu, ketika Ani, sepupuku kemari, ia bercerita tentang kabar itu. 
Ya, kini hanya hikmah yang dapat aku petik dari kisah ini. Allah tak ingin melihat hambaNya lama-lama berzina dengan yang belum halal. Insyaallah, dia t’lah tenang disana” Tambahnya lagi.

Wajah teduhnya memandang awan pagi itu. Ku lihat senyum Mbak Jannah.
Kini aku tengah dekat dengan Radit, temanku satu halaqoh. Aku kagum dengan pribadi sepertinya. Ia dewasa. Ia masih muda. Namun ia berhasil menamatkan studi setahun lebih awal dari teman-teman sebayanya. Ia berhasil memperoleh beasiswa di salahsatu universitas negri di Jawa Barat. Kini ia melanjutkan studinya di Bogor. Ia termasuk siswa yang cerdas, mandiri dan berprestasi.


Dan semua, pada Allah akan kembali. Termasuk cinta yang bersemayam itu. Hmm.. saat aku jatuh cinta. Sebaiknya aku tak mengungkapkan. Sebaiknya aku diam dan menjaganya hingga nanti. Ketika Allah menghalalkannya untukku. Dan semuanya pasti indah pada nantinya. Karena diam, adalah bukti kesetiaanku padanya. Aku mencintainya, karena kekagumanku padanya. Allah, jika cinta tak menemukan muara pada dunia ini, maka labuhkanlah ia pada muara indah nanti, indah pada JannahMu.
 J
style='max-height:300px;overflow:auto'

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

“Sesungguhnya Allah Maha Indah dan mencintai keindahan, kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan merendahkan orang lain [HR.MUSLIM no.91]. Barakaallah Fiikum :)