Mataku
mengarah ke sebuah foto, terlihat seorang wanita berkerbaya putih, memakai
kerudung dan banyak bunga melati meronte di kepalanya. Nampak pula seorang pria
berjas hitam rapi dan berdasi biru tua di sampingnya. Sepertinya ini foto
pengantin. Ku bertanya-tanya siapakah itu? Sepertinya ku mengenal lelaki itu.
Wajahnya tak asing bagiku. Dan siapa wanita itu? Sepertinya itu aku! lantas
kapan aku menikah? Usiaku masih tujuhbelas tahun!
Bunga tidur. Sangat nyata. Ah, lagi-lagi
aku bermimpi. Ku melihat wekkerku, alhamdulillah masih setengah tiga. Ku
segerakan bangun dan merapikan tempat tidur, kemudian pergi ke kamar mandi dan
berwudlu. Ku masih mengantuk, entah apa
yang membuatku mengantuk seperti ini. Masih teringat jelas sketsa mimpiku tadi.
Sungguh terlihat sangat nyata.
“Assalamualaikum”
suara lembut itu memecah kesunyian musholah.
“Wa...
walaikum salam mbak,”.
“Sudah lama disini
ya?” tanyanya sambil menata sajadah
“Emm, iya mbak..”
“Aku sholat dulu
ya, aku bangun kesiangan nih. Malu sama Allah mbak.” Sahutnya.
Aku tersenyum
sembari mempersilahkan ia agar segera sholat. Perkataan sederhana namun penuh
makna. Suara lebut dan merendahkan.“Malu sama Allah mbak.”
Berbagai
makian mencekam hati. Merobek dinding hati, atas suatu teguran tentang kelalaiaanku
selama ini. Ia malu sama Allah. Namun, bagaiman denganku? Dimana rasa maluku
pada Allah? Ku akui, aku jarang bermunajah pada Illahi di sepertiga malam.
Allah sampai kapan aku terus begini? Aku jarang sholat malam. Bagaimana nanti,
ketika aku lulus dari sini. Oleh-oleh apa yang akan ku bawa? Lima tahun disini,
seakan hanya lima bulan saja bagiku. Aku belum bisa apa-apa. Selama ini ku
hanya bermain-main dengan waktu. Berbeda jauh dengan Jannah, ia berhasil
memanfaatkan waktunya, walaupun ia baru dua tahun disini. Namun, dia sudah
hafal beberapa juz. Sudah bisa berdakwah kemana-mana. Bahkan saat ramadhan tiba
ia tak kunjung pulang ke rumah, ia habiskan separuh waktu liburan untuk
menuntut dan berbagi ilmu di tempat lain. Bahkan tak jarang banyak ikhwan
berkualitas silih berganti datang pada ayahnya untuk melamar. Subhanaallah,
bagaimana dengan ku? Aku apa? Ah, kualitas dan kuantitasku sangat berbeda
dengan Jannah milki.
Ia satu
kamar denganku di asrama ini. Sengaja kami tak pulang ke rumah walaupun waktu
berlibur kami t’lah tiba. Tugas sekolah yang kami emban, yang membuat kami
tidak segera pulang ke rumah. Sebut saja ia Jannahtul Haniin, atau biasa ku sapa
mbak Jannah. Ya, walaupun kami satu angkatan dan usia kami tak berbeda jauh. Namun
kami saling panggil memanggil dengan sebutan ukhti atau mbak. Ya begitulah ia, ia
mengajarkanku tentang banyak hal. Banyak ilmu yang aku peroleh darinya. Dan
membuatku menjadi kagum padanya. Wibawa, cara pandang, tutur kata yang halus,
sopan santun, ketawaddukan, wajah cantik, kulit yang bersih, cara berjalan,
keanggunan, wajah teduh dan banyak lagi. Ah, Jannah... namamu sangat cocok
dengan kepribadianmu seperti ini. Memandang kewadukkanmu membuat mata memandang
menjadi tenang. Usiamu masih muda. Namun, usia tak menjadi tolak ukur
kedewasaanmu. Wajarlah banyak ustadz muda disini yang kagum dan jatuh hati padamu.
Andai aku bisa memiliki kepribadian sepertimu. Mungkin orangtuaku sangat bangga
padaku.
Ternyata Jannah selesai sholat, rupanya
dia tau, aku mengamatinya dari tadi, “Mbak kenapa, kok ngelamun?”
Merapikan alat
sholat dan “Hehehhe... ndak Mbak Jan, ndak ada apa-apa kok. Ayo ke masjid yuk”
Berjalan ke arahku
dan tersenyum kemudian memberikan tangannya padaku. “Hayya...”
***
Kami
memang belum saling kenal begitu dekat, namun akhir-akhir ini kami sering
mengakrabkan diri. Berawal dari majalah dan buku-buku islam yang ia pinjamkan
padaku. Aku sangat nyaman berteman dengannya. Begitu pula dengan Reva,
sahabatku. Ia juga nyaman dengan Jannah. Setiap kali aku punya masalah, aku
sering meminta pendapat dan solusi pada Jannah. Kedekatan kami berjalan terus
seiring berjalannya waktu. Begitu pula
dengan Reva, sahabatku. Ia juga merasa nyaman berteman dengan Jannah. Kami sering
bertukar pikiran untuk memecahkan masalah bersama.
Seusai sholat subbuh, Jannah mengajakku
duduk-duduk di bangku dekat saloben, pohon besar di komplek asrama.
“Mbak Jan, pernah ngerasain jatuh cinta ndak?” Tanyaku.
“Jatuh cinta?”
tersenyum malu melihat ke arah masjid.
“Iya, Jatuh
cinta!” nyengir kuda.
“Jatuh cinta itu
wajar mbak, Rasulullah seorang tokoh dien kita juga pernah jatuh cinta. Masak
saya ndak,”
Ha? Seorang akhwat
seperti dia pernah jatuh cinta... OMG, ternyata selama ini dugaanku salah. Aku
kira dia terlalu sibuk mencari dan berbagi ilmu sana sini, sampai-sampai ndak
mikir ke arah cinta. Seolah menutupi rasa terkejutku, aku membenarkan
pernyataannya, “Love is beautiful ya mbak?”
“Iya sangat beautiful
tapi... terkadang cinta tak selamanya indah. Ia pergi sebelum aku menjawab
pinangannya, Mbak.”
“Pergi kemana Mbak
Jan?”
“Meninggal,”
Tiba-tiba matanya
beranak sungai membanjiri pipi. “Tepat satu tahun lalu, ia meninggal. Akibat
kanker otak yang ia derita.”
“Innalillahi Wainnailahi
Raaji’un,” ucapku. Mengapa ku menanyakan ini? Aduh Gusti. “Mbak Jan, mohon
maaf ya... aku ndak tau kalo dia sudah meninggal.” Ucap penyesalanku.
Menyekat air mata.
“Ah, Mbak Tia... ndak papa. Ndak perlu minta maaf, Mbak kan ndak tau. Itu sudah
menjadi jalan Allah. Allah sudah rindu pada laki-laki itu.”
“Sabar ya Mbak
Jan, mungkin bukan dia untuk Mbak. Insyaallah sudah disediakan Allah pasangan
yang lebih baik untuk Mbak.” Mencoba menenangkannya, dan menepuk pundaknya.
“Mbak Tia pingin
dengar ceritaku dengannya?” Tawarnya padaku.
“Oh! Boleh boleh
boleh boleh Mbak, tak dengerin dengan senang hati” gurauku menghiburnya.
Mbak Jannah
memulai menceritakan kisahnya, “13 Januari 2012. Tepat seusai sholat maghrib Handphone
saya berbunyi, terlihat nomor baru yang tertera disana. Aku mengangkatnya. Ku
dengar salam dari suara asing itu, Assalamualaikum. Suara yang belum
pernah ku kenal. Waalaikum salam. Jawabku bergetar. Entah suara siapa
malam itu. Ia tiba-tiba menelpon dan memperkenalkan diri, ia bernama Habibbullah
Azzam. Ia ustadz pengabdian dari pondok lamaku, Mbak Tia” Seketika kedua matanya
berbinar-binar senaang, mengingat masa indah itu.
“Ehem, sepertinya
seneng ya sama cerita ini?” Ujarku.
Mbak Jannah tersenyum.
“Laki-laki itu menceritakan tentang mimpinya beberapa minggu lalu. Ia bermimpi
mendengar lantunan ayat suci dari bibir seorang perempuan. Ia merasa lantunan
itu sangat indah didengar. Ia mengaku cukup terhanyut dengan lantunan itu, Mbak.
Dalam mimpi itu, dia mendekati perempuan itu. Namun perempuan itu sadar atas
kedatangannya. Perempuan itu terkejut, kemudian perempuan itu lari. Ia berusaha
mengejarnya, namun tak dapat ia temui. Ia hanya menemukan sobekan kertas dengan
beberapa digit nomor.” Mbak Jannah tersenyum geli menceritakannya
padaku dan bertanya, “Lucu ya?”
“Hehehehe... iya
mbak kayak di negri dongeng. Tapi keren ya? Aku benar-benar baru tau, kalo mbak
punya cerita kayak gini”
Lesung pipi Mbak
Jannah mulai muncul, wajahnya nampak merah. “Heheh iya lucu!”
“Hehehehe,”
nyengir kuda lagi “and than mbak?”
“Dia menghubungi
nomor itu, itu nomorku,” kembali ia tertawa.
Ku lihat sudah tak
nampak lagi deraian air matanya tadi. Kini suasana terasa lebih akrab dan santai.
Pikirku, ternyata Mbak Jannah bisa guyon juga. “Terus gimana mbak, setelah mbak
angkat telfonnya?” Tanyaku.
“Hubungan kami
semakin dekat. Dan akhirnya, beberapa bulan kedepan ia melamar. Ia melamarku
lewat Ayah. Namun Ayah tak segera menjawabnya, beliau masih merundingkan dengan
keluarga yang lain, beliau juga masih mempertimbangkan studiku yang belum
selesai saat itu.”
“Lantas bagaimana
Mbak kelanjutan ceritanya?
“Diam-diam saya
juga menaruh hati padanya, setiap sholat ku selipkan doa untuknya. Saya
mencintainya mbak Tia...”
Perasaanya tak
bisa dibohongi. Kedua bola matanya menunjukkan kebahagiaan tersendiri. Memang
benar, cinta bersemayam dimana saja. Tak peduli ia siapa dan kepada siapa ia
memadu.
“Mbak bilang ke
ayah atau ibu mbak?” tanyaku lagi.
Ia menggelengkan
kepala, “Awalnya saya simpan rahasia ini sendiri. Saya belum sempat cerita ke Ayah
maupun Ibu. Namun, seiring berjalannya waktu Ayah dan Ibu mengetahuinya
sendiri.” Sahutnya.
Hmm, begitulah
wanita. Butuh bahu untuk menompang. Tidak hanya Mbak Jannah saja yang butuh,
begitu pula denganku. Mungkin, pada wanita lain juga. Aku juga tak bisa
menanggung masalah sendiri. Aku membutuhkan bahu untuk menompang masalahku.
Perasaan wanita sangat lembut dan rapuh. Karena ia tercipta dari tulang rusuk
yang bengkok. Pikirku.
“Ya, mbak begitu
pula aku. Awalnya diam, ndak cerita ke siapa-siapa tentang perasaanku terhadap
si doi. Tapi tanpa diminta akhirnya aku sering cerita ke orang tua. Terutama
tante. Beliau sangat dekat denganku.”
Tersenyum dan
melanjutkan ceritanya, “Hmmm mbak itulah perempuan, makhluk halus ya?” guraunya
“Tapi setelah kedekatan kami cukup jauh, kami merasa risih. Kami tak tahan
dengan ini. Akhirnya kami berupaya menjaga jarak agar tidak saling
berkomunikasih sering-sering. Namun, hati tak bisa dibodohi. Kami saling
mencintai. Ini terbukti banyak perhatian yang saling kami terima. Seorang
ustadz pernah menerangkan tentang hukum hubungan laki-laki dan perempuan
seperti ini. Dan kesimpulannya, sama sekali tidak boleh. Hubungan ini sudah
termasuk zina. Aku masih berusaha menjaga hubungan baik dengannya dan membatasi komunikasih. Namun,
syetan lebih cerdik. Syetan berhasil membisiki. Dan akhirnya aku tak bisa
menahan gejolak ini. Kami kembali berkomunikasih secara leluasa, tanpa komitmen
pacaran.”
Ternyata bukan Mbak Jannah saja yang pernah mengalami hal sedemikian. Aku juga pernah
merasakan seperti ini, lirihku dalam hati. “Astaghfirullah, ternyata
syetan lebih cerdik ya. Ada hikmahnya ya mbak?” Tukasku.
“Iya,” Mbak Jannah
tersenyum. “Hmmm, Allah sangat sayang pada hambaNya. Lima bulan kemudian,
ketika aku sudah berada di asrama ini. Hubungan kami sempat terputus. Tiga
orang ikhwan datang ke rumah. Mereka mengantarkan titipan dari Azzam.
Dan membawa kabar duka. Azzam t’lah meninggal. Aku sangat shock mendengar
kabar itu, ketika Ani, sepupuku kemari, ia bercerita tentang kabar itu.
Ya, kini hanya hikmah yang dapat aku petik dari
kisah ini. Allah tak ingin melihat hambaNya lama-lama berzina dengan yang belum
halal. Insyaallah, dia t’lah tenang disana” Tambahnya lagi.
Wajah teduhnya
memandang awan pagi itu. Ku lihat senyum Mbak Jannah.
Kini aku tengah dekat
dengan Radit, temanku satu halaqoh. Aku kagum dengan pribadi sepertinya. Ia dewasa.
Ia masih muda. Namun ia berhasil menamatkan studi setahun lebih awal dari
teman-teman sebayanya. Ia berhasil memperoleh beasiswa di salahsatu universitas
negri di Jawa Barat. Kini ia melanjutkan studinya di Bogor. Ia termasuk siswa
yang cerdas, mandiri dan berprestasi.
Dan semua, pada Allah akan kembali. Termasuk cinta yang bersemayam itu. Hmm.. saat aku jatuh cinta. Sebaiknya aku tak mengungkapkan. Sebaiknya aku
diam dan menjaganya hingga nanti. Ketika Allah menghalalkannya untukku. Dan semuanya pasti indah pada nantinya. Karena diam, adalah bukti kesetiaanku padanya. Aku mencintainya, karena kekagumanku padanya. Allah, jika cinta tak menemukan muara pada dunia ini, maka labuhkanlah ia pada muara indah nanti, indah pada JannahMu.
J
Tidak ada komentar:
Posting Komentar