Alhamdulillah. Pinta enam tahun lalu t’lah
ku tunaikan. Enam tahun sudah ku tinggal di Paciran, Lamongan. Sebagaimana
pintamu padaku untuk menjadi santriwati yang berguna. Tepat di bulan ketiga
tahun 2008, ketika kau mengajak kami sekeluarga ke suatu tempat. Ketika itu
kondisimu masih baik. Jauh tak pernah terlintas di pikiranku, “aku akan
mondok”. Namun, Allah berkata lain, kau berupaya memondokkanku, di tempat
itu, ‘Pondok Modern Muhammadiyah’ namanya.
Tepat pada tanggal 2 Mei 2008. Dua
bulan berlalu, ketika penyakit itu mulai menggerogoti kesehatanmu, sungguh ku
sangat khawatir kehilanganmu. Pagi-pagi, ku berpamitan padamu. Tak pernah terbayang, kebiasaan itu akan
menjadi kebiasaan terakhir di antara kita. Ku pamit tuk menuntut ilmu, kala itu
aku masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Ku berdiri di bibir pintu kamarmu. Aku
tak tega melihatmu, aku tak berani mendekat padamu, ku hanya berkata “Mbah
kung, Vitis pamit sekolah dulu”
Tak satu pelajaran yang bisa ku serap.
Aku terpikir olehmu, aku menangis sepanjang jam pelajaran. Tak ada keceriaan
sama sekali saat itu. Kakekku sayang, saat pulang sekolah tak kudapati engkau
dikamarmu. Ku mencarimu dimana-mana, namun tak ku dapati engkau di sudut ruang
mana pun. Bahkan tak ada seseorang di rumah. Aku sedih. Aku sungguh bingung
kala itu.
Beberapa saat kemudian, bibi datang
menemui ku, kemudian mengajakku ke rumah sakit. Aku tak mengerti, aku sangat
bingung “ke rumah sakit, siapa yang sakit?” tanyaku dalam hati. Kakek, aku sangat
takut saat itu. Ku takut terjadi apa-apa denganmu. Di perjalanan, bibi mencoba
menenangkanku, namun upaya bibi sia-sia, aku masih sedih.
Perlahan
bibi membuka pintu ruang inapmu, engkau terkulai tak berdaya di atas ranjang
putih itu. Ku sangat terkejut ku dapati engkau disana. Aku sangat sedih kek.
Aku juga takut. Betapa tidak, kau terlihat sangat pucat, banyak jarum dan alat
medis dimana-mana, menusuki kulitmu.
Semalaman ku lewati bersamamu, ku
tertidur disamping ranjangmu. Hari-hari ku lewati bersamamu di rumah sakit itu.
Tanpa ku sadari, pada malam itu, tak sengaja tanganmu terjatuh, membuatku terbangun.
Kau berusaha merangkulku. Kau menangis, tak henti-henti kau terus menyebut
namaNya. Tak terasa seisi ruang terbangun dan menyaksikan isak tangismu. Kau menahan
sakit yang teramat luar biasa dan kau masih berusaha menahannya. Ku mencoba
menenangkanmu, begitu juga dengan keluarga lain. Semuanya ikut menenangkanmu. Ku tak tahan melihat s’muanya itu. Ku putuskan
untuk meninggalkanmu sejenak, karna sungguh ku tak tahan.
Dalam nafas yang tersengal-sengal “Allah, bagaimana nasib
keluarga saya, jika saya tinggal?” Ya, begitulah. Masih teringat betul keluhmu
padaNya. Di sisa usiamu, kau masih memikirkan keluarga. Kau menangis pada
Allah. Mengharap, kebaikan akan selalu mengiringi kami. Allahku, aku semakin
tak sanggup mendengar isakkan itu, tagisanku semakin menjadi.
Detik-detik itu, ku kembali
dipanggilnya, Ku dirangkulnya, ku diciumnya. “Nak, nurut sama keluarga. Kamu
harus sayang sama keluarga” Nafas yang terpenggal-penggal kau hela demi
menyampaikan amanah terakhir itu padaku. Kau terlihat sangat tak berdaya. Wajahmu
sangat pucat. Ku hanya bisa merangkulmu, dan ku hanya bisa berdoa, “Allah
berilah yang terbaik untuk beliau, jika memang Engkau hendak mengambilnya.
Ambillah ia dalam keadaan khusnul khatimahMu” Perlahan rangkulan itu kau lepas, Allah
mengirimkan malaikatNya untuk menjemputmu. Dan nafas terakhirmu mengantarkanmu
kembali padaNya, “Laa Illahailallah Muhammadarrasulullah”
Pada rindu, pada masa dan pada semua
kejadian pasti ada hikmahnya yang dapat ku petik. Pria tuaku kini t’lah tiada. “Mbah
kung, Alhamdulillaha ku t’lah usai menamatkan studiku disini, tuk menunaikan
amanahmu.”
Salam Sayang
Vitis Indra Qomariyanti, cucu pertamamu

Nice True Story... :) Sebuah pernyataan kasih sayang walau hanya melalui tulisan...!
BalasHapusfollowback http://cholis244.blogspot.com/
:) Iya.. Tapi, sungguh sayang. Beliau nggak bisa lihat cucunya sekarang.
BalasHapusOk, kak insyaallah sy followback
okey... thanks...
BalasHapus