Rinai hujan menemaniku saat ini. Kulihat
keceriaan anak-anak kecil bermain hujan di luar sana. Hmm ... Sungguh keinginan
besar untukku bisa bermain bersama mereka. Cerita ini kutulis dan
kupersembahkan pada tiga rahim yang telah sudi merawat diriku seperti
ini dengan tulus.
![]() |
| I Love You Mom... |
Tujuhbelas
tahun mereka setia merawat dan menjagaku. Namaku Zahrotul Qomariyah, biasa aku
dipanggil Aya. Aku terlahir secara normal sebelum garis kehidupan mengubah
kondisiku menjadi disable polio. Saat itu usiaku baru beranjak empat
tahun, setelah seharian bermain, tiba-tiba suhu badanku sangat panas. Suhu
badanku semakin naik, sehingga aku menjadi murung, tak lagi ceria seperti
biasanya. Begitulah awal tragedi itu bermula. Warna keceriaanku menjadi hitam
saat hidupku divonis polio. Ayah dan Ibu pun ikut sedih melihat
keadaanku. Berbagai upaya dilakukan demi kesembuhanku, terlebih aku adalah anak
semata wayang mereka. Ayah, Ibu beserta keluarga mulai panik dengan kondisiku
yang tak kunjung membaik. Betapa tidak aku adalah anak yang ditunggu-tunggu kelahirannya
oleh keluarga besar kami. Karena kakak dari ibu atau biasa kupanggil Bunda
Hasnah belum dikaruniai keturunan saat suami beliau belum meninggal.
Kembali kepada penyakitku, semua orang
di keluargaku mulai mencarikan solusi pengobatan. Sejak saat itu dimulailah
perjalanan panjang yang harus aku lalui untuk memperoleh kesembuhan kembali.
Keluar masuk rumah sakit menjadi hal yang harus aku jalani secara rutin, bahkan
hingga berbulan-bulan harus dirawat di rumah sakit. Aku menjalani ‘ritual’
pengobatan ini bukan saja di satu rumah sakit, melainkan banyak rumah sakit
yang sudah aku masuki, semua demi kesembuhanku.
Parahnya, virus polio telah lebih dulu
menyerang fungsi saraf di tubuhku dengan ganas. Akibatnya, kedua kakiku dimulai
dari pinggang kebawah hingga kaki melemah. Namun Ayah, Ibu dan keluarga tak
pernah menyerah untuk kesembuhanku. Berbagai tempat pengobatan terus mereka
usahakan, baik pengobatan medis ataupun alternatif.
Suatu ketika, tatkala Ibu berniat
meminta saran pada dokter ahli yang pernah merawatku. Ibu datang sendiri ke
rumah sakit yang pernah kusinggahi kala itu. Namun, dokter itu pun seolah
menyerah. Prof. Dr. Nagar Ony yang pernah merawatku itu berkata, "Ibu
mau apalagi datang kemari, sudah saya katakan bahwa anak ibu sudah tidak bisa
normal kembali ...! " dengan nada tegas dokter itu menyampaikan pada
Ibuku. Padahal, maksud kedatangan Ibu adalah untuk meminta saran kemana
aku harus dibawa ketika aku mulai minta sekolah.
Dengan perasaan hancur, Ibu pulang tanpa
membawa saran apapun. Pada hari itu pula, musibah kembali menimpah keluarga
kami. Saat Ayah pulang kerja, Ayah mengalami kecelakaan yang mengantarkannya
pada maut. Motor Ayah tiba-tiba oleng dan menabrak truk dari arah yang
berlawanan. Akibat kecelakaan ini nyawa Ayah sudah tidak bisa tertolong. Ayah
meninggal dunia, meninggalkan Ibu dan aku.
Meski tak bersama Ayah, Ibu belum
menyerah, ia tetap gigih dan sabar berjuang mencari pengobatan untukku. Beban yang
ditanggung Ibu pun semakin bertambah, hingga Ibu memutuskan untuk menjual rumah
yang selama ini kami tempati guna biaya pengobatanku. Kami memutuskan untuk
tinggal bersama Eyang Putri dan Bunda Hasnah di rumah pensiunan peninggalan
Almarhum Eyang Kakung. Tak ingin berpangku tangan mengharap belas kasih orang,
Ibu berusaha mencari nafkah dengan semangat. Dengan keahlian dan modal seadanya,
Ibu mulai merintis usaha dengan berjualan gorengan, es lilin, kue basah, hingga
menjadi pelayan kantin sekolah.
Ibu bekerja tanpa mengenal lelah, mulai
ia membuka mata sampai kembali terpejam. Bahkan beliau hampir tak sempat
melihatku bermain menikmati hari-hariku. Ibu hanya bisa mengetahui
perkembanganku melalui cerita Eyang Putri dan Bunda Hasnah. Aku pun hampir
tidak pernah bertemu Ibu, karena selepas subuh saat aku masih terlelap, Ibu
sudah berangkat kerja dan pulang kerja saat aku sudah kembali terlelap. Dengan
sepeda gayung miliknya Ibu berangkat menuju ketempat kerja. Hal ini beliau
lakukan untuk menghemat ongkos perjalanan. Semua ini Ibu lakukan semata-mata demi
aku.
Setiap Ibu libur kerja, Ibu selalu
menyempatkan dirinya dengan mengajakku jalan-jalan ke Taman Kota dekat rumah
Eyang. Ibu selalu memberikan kebahagiaan untukku. Tak pernah aku dengar keluh
kesah darinya, bahkan tak pernah marah kepadaku. Beliau sangat tabah dan sabar menghadapi
kehidupan ini. Saat kedua mataku ini terbuka, aku sudah tak mendapati Ibu di
sini. “Ibu ... Ibu ... Ibu ...,” rengekan ini seakan sia-sia, karena
beliau tidak ada di sampingku, hingga rengekan itu menarik perhatian Bunda
Hasnah untuk menemuiku.
“Ada apa sayang, udah bangun ya?”
tanya Bunda Hasnah.
“Ibu ... Ibu ... Ibu ...” hanya
kata itu yang dapat kusebutkan. Awalnya, aku seperti orang bingung saat aku
terbangun dan tak mendapati sosok Ibu di sini. Namun dengan berjalannya waktu
aku pun mulai terbiasa dengan keadaan seperti itu. Aku pun mulai mengerti bahwa
Ibu melakukannya demi menghidupi aku dan mengobati deritaku.
Selama Ibu bekerja, aku dititipkan pada
Bunda Hasnah. Dengan belaian lembutnya, Bunda Hasna merawatku dengan penuh
kasih sayang. Aku sering dipeluk dan digendongnya seperti anak kandungnya
sendiri. Saat aku rewel atau sedih, Bunda selalu berusaha menenangkan aku
dengan berbagai cara, seperti memberikan aku mainan dan lain-lain. Bunda Hasna
paling pandai menghiburku.
“Ayo sayang, Bunda mandiin Aya dulu
... biar wangi … biar cantik.” ajak Bunda Hasnah saat mengajakku mandi.
Setiap pagi, Bunda Hasnah memandikan dan mendandaniku hingga cantik. Setelah
itu, Bunda pamit kepada Eyang Putri untuk pergi mengajar sekolah di salah satu
Sekolah Dasar ditempat kami. Inilah rutinitas Bunda Hasnah sebelum berangkat
kerja.
Selama Ibu dan Bunda Hasnah bekerja aku dititipkan pada Eyang Putri. Beliau sangat sayang kepadaku, setiap hari beliau menjagaku dengan penuh cinta kasih sayang. Meskipun usianya sudah rentah, beliau senang mengajakku bermain. Setiap hari beliau mengajarkan aku untuk berjalan secara perlahan-lahan, Eyang sangat telaten membantu menggerakkan kedua kakiku ini. Saat aku terjatuh, beliau tak pernah memarahiku tapi sebaliknya, beliau terus memotivasiku. Seperti, “Hebat ya Aya, sudah bisa jalan.” atau “Aya, hati-hati ya Nak ...” “Aya, ke sini sayang ... coba mendekat ke Eyang.” “Aya coba gerakkan lagi kakinya Nak.” Begitulah Eyang Putri memberikan semangat untukku.
Selama Ibu dan Bunda Hasnah bekerja aku dititipkan pada Eyang Putri. Beliau sangat sayang kepadaku, setiap hari beliau menjagaku dengan penuh cinta kasih sayang. Meskipun usianya sudah rentah, beliau senang mengajakku bermain. Setiap hari beliau mengajarkan aku untuk berjalan secara perlahan-lahan, Eyang sangat telaten membantu menggerakkan kedua kakiku ini. Saat aku terjatuh, beliau tak pernah memarahiku tapi sebaliknya, beliau terus memotivasiku. Seperti, “Hebat ya Aya, sudah bisa jalan.” atau “Aya, hati-hati ya Nak ...” “Aya, ke sini sayang ... coba mendekat ke Eyang.” “Aya coba gerakkan lagi kakinya Nak.” Begitulah Eyang Putri memberikan semangat untukku.
Sampai siang hari, Bunda Hasnah pulang
dari sekolahnya. Setiap hari Beliau tak pernah luput membawakanku oleh-oleh.
Bunda Hasnah dan Eyang sangat sayang padaku, mereka setiap sore membawaku
jalan-jalan dengan menikmati keindahan sunset. Tanpa adanya kursi roda,
aku digendong di atas punggung Bunda Hasnah dengan hati-hati sampai ketempat.
Suatu hari, ada sedikit titik terang mengenai
keadaanku, yaitu melalui pengobatan nonmedis. Mereka membawaku ke Desa
Cigasong, yang terletak di pelosok Kota Sumedang. Jarak yang sangat jauh bagi
kami, namun Ibu, Bunda Hasnah dan Eyang Putri berusaha keras untuk membawaku ke
sana. Berapa pun rupiah yang mereka punya, mereka kumpulkan. Ibu juga tak
segan-segan meminjam uang ke sana-sini untuk pengobatan ini. Alhamdulillah
uang terkumpul untuk pergi berobat ke Sumedang.
Setelah 2 sampai 3 kali pengobatan, aku
mulai bisa merasakan sakit yang luar biasa sampai terdengar jeritan yang
menyayat hati mereka. Alhamdulillah, atas Izin Allah, sedikit demi
sedikit kedua kaki yang tadinya benar-benar mati rasa mulai bisa merasakan.
Kini untuk semua aktivitas di luar rumah aku menggunakan elbow dan brace,
sementara untuk aktivitas di dalam rumah, aku menggunakan dua buah kruk
sebagai alat bantu. Alat-alat itu, aku peroleh dari gaji Ibu, Bunda Hasnah dan
sisa pensiunan Eyang Putri.
Itulah pengorbanan besar dan tak
mengenal lelah dari Ibu, Bunda Hasnah dan Eyang Putri untuk kesembuhanku. Subhanaallah,
kini Ibu, Bunda Hasnah dan Eyang Putri bisa tersenyum lega melihat kondisiku
yang semakin membaik.
"Hati-hati
Nak nanti terjatuh!"
"Wah
kamu hebat ya, tadi tidak nangis waktu jatuh "
“Kemari
sayang …”
Serta
jutaan kalimat lain yang membuatku tetap bertahan. Sebuah kalimat yang tetap
terniang dalam telingaku, saat Ibu mengucapkan, “Nak, getirnya hidup akan
membuatmu menjadi lebih kuat dan dewasa. Allah tak ‘kan membebanimu sesuatu
yang berat. Selagi Allah mempercayai bahwa Aya bisa melewati itu semua.”
Kalimat itulah yang selalu aku pegang hingga tidak mudah menangis ketika
terjatuh. Jatuh dan mengalami patah tulang kaki seringkali aku alami. Namun
hal itu tidak membuatku menangis meskipun rasanya sakit. Bagiku, ini sudah
menjadi hal biasa.
Kesedihan
untuk sebuah tragedi yang mengubah garis hidupku sebagai disable sudah
aku lewati, aku yakin bahwa Allah selalu bersamaku. Kesedihan hanya akan
membuat lezatnya makanan menjadi hilang, manisnya buah-buahan menjadi hambar,
indahnya alam menjadi kabur, beningnya air sumur menjadi keruh, sejuknya embun
pagi menjadi debu dan nyamannya tempat tidur menjadi duri.
Terimakasih
atas cinta dan kasih sayang yang telah mereka curahkan kepadaku. Hanya Allah
yang mampu membalas kesabaran dan pengorbananmu. Ibu, Bunda Hasna serta Eyang
Putri.
Tiga rahim terikhlasku.
Zahrotul Qomariyah

Tidak ada komentar:
Posting Komentar