Select Your Language

Minggu, 19 Januari 2014

Keikhlasan Tiga Rahim Untukku


Rinai hujan menemaniku saat ini. Kulihat keceriaan anak-anak kecil bermain hujan di luar sana. Hmm ... Sungguh keinginan besar untukku bisa bermain bersama mereka. Cerita ini kutulis dan kupersembahkan pada tiga rahim yang telah sudi merawat diriku seperti ini dengan tulus.


I Love You Mom...

 Tujuhbelas tahun mereka setia merawat dan menjagaku. Namaku Zahrotul Qomariyah, biasa aku dipanggil Aya. Aku terlahir secara normal sebelum garis kehidupan mengubah kondisiku menjadi disable polio. Saat itu usiaku baru beranjak empat tahun, setelah seharian bermain, tiba-tiba suhu badanku sangat panas. Suhu badanku semakin naik, sehingga aku menjadi murung, tak lagi ceria seperti biasanya. Begitulah awal tragedi itu bermula. Warna keceriaanku menjadi hitam saat hidupku divonis polio. Ayah dan Ibu pun ikut sedih melihat keadaanku. Berbagai upaya dilakukan demi kesembuhanku, terlebih aku adalah anak semata wayang mereka. Ayah, Ibu beserta keluarga mulai panik dengan kondisiku yang tak kunjung membaik. Betapa tidak aku adalah anak yang ditunggu-tunggu kelahirannya oleh keluarga besar kami. Karena kakak dari ibu atau biasa kupanggil Bunda Hasnah belum dikaruniai keturunan saat suami beliau belum meninggal.
Kembali kepada penyakitku, semua orang di keluargaku mulai mencarikan solusi pengobatan. Sejak saat itu dimulailah perjalanan panjang yang harus aku lalui untuk memperoleh kesembuhan kembali. Keluar masuk rumah sakit menjadi hal yang harus aku jalani secara rutin, bahkan hingga berbulan-bulan harus dirawat di rumah sakit. Aku menjalani ‘ritual’ pengobatan ini bukan saja di satu rumah sakit, melainkan banyak rumah sakit yang sudah aku masuki, semua demi kesembuhanku.
Parahnya, virus polio telah lebih dulu menyerang fungsi saraf di tubuhku dengan ganas. Akibatnya, kedua kakiku dimulai dari pinggang kebawah hingga kaki melemah. Namun Ayah, Ibu dan keluarga tak pernah menyerah untuk kesembuhanku. Berbagai tempat pengobatan terus mereka usahakan, baik pengobatan medis ataupun alternatif.
Suatu ketika, tatkala Ibu berniat meminta saran pada dokter ahli yang pernah merawatku. Ibu datang sendiri ke rumah sakit yang pernah kusinggahi kala itu. Namun, dokter itu pun seolah menyerah. Prof. Dr. Nagar Ony yang pernah merawatku itu berkata, "Ibu mau apalagi datang kemari, sudah saya katakan bahwa anak ibu sudah tidak bisa normal kembali ...! " dengan nada tegas dokter itu menyampaikan pada Ibuku. Padahal, maksud kedatangan Ibu adalah  untuk meminta saran kemana aku harus dibawa ketika aku mulai minta sekolah.
Dengan perasaan hancur, Ibu pulang tanpa membawa saran apapun. Pada hari itu pula, musibah kembali menimpah keluarga kami. Saat Ayah pulang kerja, Ayah mengalami kecelakaan yang mengantarkannya pada maut. Motor Ayah tiba-tiba oleng dan menabrak truk dari arah yang berlawanan. Akibat kecelakaan ini nyawa Ayah sudah tidak bisa tertolong. Ayah meninggal dunia, meninggalkan Ibu dan aku.
Meski tak bersama Ayah, Ibu belum menyerah, ia tetap gigih dan sabar berjuang mencari pengobatan untukku. Beban yang ditanggung Ibu pun semakin bertambah, hingga Ibu memutuskan untuk menjual rumah yang selama ini kami tempati guna biaya pengobatanku. Kami memutuskan untuk tinggal bersama Eyang Putri dan Bunda Hasnah di rumah pensiunan peninggalan Almarhum Eyang Kakung. Tak ingin berpangku tangan mengharap belas kasih orang, Ibu berusaha mencari nafkah dengan semangat. Dengan keahlian dan modal seadanya, Ibu mulai merintis usaha dengan berjualan gorengan, es lilin, kue basah, hingga menjadi pelayan kantin sekolah.
Ibu bekerja tanpa mengenal lelah, mulai ia membuka mata sampai kembali terpejam. Bahkan beliau hampir tak sempat melihatku bermain menikmati hari-hariku. Ibu hanya bisa mengetahui perkembanganku melalui cerita Eyang Putri dan Bunda Hasnah. Aku pun hampir tidak pernah bertemu Ibu, karena selepas subuh saat aku masih terlelap, Ibu sudah berangkat kerja dan pulang kerja saat aku sudah kembali terlelap. Dengan sepeda gayung miliknya Ibu berangkat menuju ketempat kerja. Hal ini beliau lakukan untuk menghemat ongkos perjalanan. Semua ini Ibu lakukan semata-mata demi aku.
Setiap Ibu libur kerja, Ibu selalu menyempatkan dirinya dengan mengajakku jalan-jalan ke Taman Kota dekat rumah Eyang. Ibu selalu memberikan kebahagiaan untukku. Tak pernah aku dengar keluh kesah darinya, bahkan tak pernah marah kepadaku. Beliau sangat tabah dan sabar menghadapi kehidupan ini. Saat kedua mataku ini terbuka, aku sudah tak mendapati Ibu di sini. “Ibu ... Ibu ... Ibu ...,” rengekan ini seakan sia-sia, karena beliau tidak ada di sampingku, hingga rengekan itu menarik perhatian Bunda Hasnah untuk menemuiku.
Ada apa sayang, udah bangun ya?” tanya Bunda Hasnah.
Ibu ... Ibu ... Ibu ...” hanya kata itu yang dapat kusebutkan. Awalnya, aku seperti orang bingung saat aku terbangun dan tak mendapati sosok Ibu di sini. Namun dengan berjalannya waktu aku pun mulai terbiasa dengan keadaan seperti itu. Aku pun mulai mengerti bahwa Ibu melakukannya demi menghidupi aku dan mengobati deritaku.
Selama Ibu bekerja, aku dititipkan pada Bunda Hasnah. Dengan belaian lembutnya, Bunda Hasna merawatku dengan penuh kasih sayang. Aku sering dipeluk dan digendongnya seperti anak kandungnya sendiri. Saat aku rewel atau sedih, Bunda selalu berusaha menenangkan aku dengan berbagai cara, seperti memberikan aku mainan dan lain-lain. Bunda Hasna paling pandai menghiburku.
Ayo sayang, Bunda mandiin Aya dulu ... biar wangi … biar cantik.” ajak Bunda Hasnah saat mengajakku mandi. Setiap pagi, Bunda Hasnah memandikan dan mendandaniku hingga cantik. Setelah itu, Bunda pamit kepada Eyang Putri untuk pergi mengajar sekolah di salah satu Sekolah Dasar ditempat kami. Inilah rutinitas Bunda Hasnah sebelum berangkat kerja.
Selama Ibu dan Bunda Hasnah bekerja aku dititipkan pada Eyang Putri. Beliau sangat sayang kepadaku, setiap hari beliau menjagaku dengan penuh cinta kasih sayang. Meskipun usianya sudah rentah, beliau senang mengajakku bermain. Setiap hari beliau mengajarkan aku untuk berjalan secara perlahan-lahan, Eyang sangat telaten membantu menggerakkan kedua kakiku ini. Saat aku terjatuh, beliau tak pernah memarahiku tapi sebaliknya, beliau terus memotivasiku. Seperti, “Hebat ya Aya, sudah bisa jalan.” atau “Aya, hati-hati ya Nak ...” “Aya, ke sini sayang ... coba mendekat ke Eyang.” “Aya coba gerakkan lagi kakinya Nak.” Begitulah Eyang Putri memberikan semangat untukku.     
Sampai siang hari, Bunda Hasnah pulang dari sekolahnya. Setiap hari Beliau tak pernah luput membawakanku oleh-oleh. Bunda Hasnah dan Eyang sangat sayang padaku, mereka setiap sore membawaku jalan-jalan dengan menikmati keindahan sunset. Tanpa adanya kursi roda, aku digendong di atas punggung Bunda Hasnah dengan hati-hati sampai ketempat.
Suatu hari, ada sedikit titik terang mengenai keadaanku, yaitu melalui pengobatan nonmedis. Mereka membawaku ke Desa Cigasong, yang terletak di pelosok Kota Sumedang. Jarak yang sangat jauh bagi kami, namun Ibu, Bunda Hasnah dan Eyang Putri berusaha keras untuk membawaku ke sana. Berapa pun rupiah yang mereka punya, mereka kumpulkan. Ibu juga tak segan-segan meminjam uang ke sana-sini untuk pengobatan ini. Alhamdulillah uang terkumpul untuk pergi berobat ke Sumedang.
Setelah 2 sampai 3 kali pengobatan, aku mulai bisa merasakan sakit yang luar biasa sampai terdengar jeritan yang menyayat hati mereka. Alhamdulillah, atas Izin Allah, sedikit demi sedikit kedua kaki yang tadinya benar-benar mati rasa mulai bisa merasakan. Kini untuk semua aktivitas di luar rumah aku menggunakan elbow dan brace, sementara untuk aktivitas di dalam rumah, aku menggunakan dua buah kruk sebagai alat bantu. Alat-alat itu, aku peroleh dari gaji Ibu, Bunda Hasnah dan sisa pensiunan Eyang Putri.
Itulah pengorbanan besar dan tak mengenal lelah dari Ibu, Bunda Hasnah dan Eyang Putri untuk kesembuhanku. Subhanaallah, kini Ibu, Bunda Hasnah dan Eyang Putri bisa tersenyum lega melihat kondisiku yang semakin membaik.

"Hati-hati Nak nanti terjatuh!"
"Wah kamu hebat ya, tadi tidak nangis waktu jatuh "
Kemari sayang …”
Serta jutaan kalimat lain yang membuatku tetap bertahan. Sebuah kalimat yang tetap terniang dalam telingaku, saat Ibu mengucapkan, “Nak, getirnya hidup akan membuatmu menjadi lebih kuat dan dewasa. Allah tak ‘kan membebanimu sesuatu yang berat. Selagi Allah mempercayai bahwa Aya bisa melewati itu semua.” Kalimat itulah yang selalu aku pegang hingga tidak mudah menangis ketika terjatuh. Jatuh dan mengalami patah tulang kaki seringkali aku alami. Namun  hal itu tidak membuatku menangis meskipun rasanya sakit. Bagiku, ini sudah menjadi hal biasa.
Kesedihan untuk sebuah tragedi yang mengubah garis hidupku sebagai disable sudah aku lewati, aku yakin bahwa Allah selalu bersamaku. Kesedihan hanya akan membuat lezatnya makanan menjadi hilang, manisnya buah-buahan menjadi hambar, indahnya alam menjadi kabur, beningnya air sumur menjadi keruh, sejuknya embun pagi menjadi debu dan nyamannya tempat tidur menjadi duri.
Terimakasih atas cinta dan kasih sayang yang telah mereka curahkan kepadaku. Hanya Allah yang mampu membalas kesabaran dan pengorbananmu. Ibu, Bunda Hasna serta Eyang Putri. Tiga rahim terikhlasku.

Zahrotul Qomariyah



style='max-height:300px;overflow:auto'

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

“Sesungguhnya Allah Maha Indah dan mencintai keindahan, kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan merendahkan orang lain [HR.MUSLIM no.91]. Barakaallah Fiikum :)