Select Your Language

Minggu, 02 Februari 2014

Senari Maghrib Itu

Aku masih duduk di bangku hitam kosong dalam relungku.
Ya.. dibawah pohon kering tak berdaun itu
Tepat dibawahnya


Malam itu, kau menjadi imamku. Imam sholat untukku.
Tak tahu rasa apa yang aku rasakan saat itu.
Saat pertemuanku dan pertemuanmu.

Tepat saat salam akhir pada sholat maghrib itu.
Aku tak tahu, dari mana munculnya suara itu.
Ku masih terdiam terpaku.
Dalam doa hati ini berdebar. Berdebar tak tahu arah.
Suara itu...
Lagu itu...
Dentingan alur lagu itu...
Seolah malam milikku dan milikmu.

Hai.. sapaku,  bagaimana denganmu.
Bisakah kita terus beradu?
Coba lihatlah dalam hatiku..
Lebih dalam lagi..

ya..
dalam lagi..

Cobalah kemari... aku merindumu.
Merindu dalam sejuta anganku bersamamu.


Paciran, 14 Desember 2013

style='max-height:300px;overflow:auto'

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

“Sesungguhnya Allah Maha Indah dan mencintai keindahan, kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan merendahkan orang lain [HR.MUSLIM no.91]. Barakaallah Fiikum :)